Nama: Edwin Wijaya
NIM: 16513315
Fakultas:STEI
Resume mentoring OSKM:
Di OSKM 2013, mahasiswa baru mendapatkan mentoring dari beberapa pihak, baik dari taplok, mentor agama, dan kakak senior angkatan 2011. Untuk mentoring agama, saya dimentor oleh PMK(Persekutuan Mahasiswa Kristen) ITB. Di sini maba dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 20 orang. Namun untuk kegiatan mentoringnya sendiri kembali dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang. Apa yang diajarkan di mentoring agama ini ? Saya diajarkan mengenai visi hidup saya, hakikat hidup saya berdasarkan ajaran agama Kristen. Di sini saya lebih mengerti bagaimana caranya agar kita dapat memiliki visi hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan cara berdoa, bersekutu, dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan yang rusak karena dosa, setiap kita dapat mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam hidup masing-masing kita. Poin kedua, saya juga belajar bagaimana mengerti rancangan yang Tuhan berikan bagi setiap kita. Manusia seringkali bersungut-sungut atau protes terhadap rancangan yang Tuhan berikan atas hidupnya. Tampaknya rencana kita tidak dikabulkan Tuhan. Namun di mentoring ini saya diajarkan, bahwa rancangan Tuhan itu lebih baik daripada rancangan kita. Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi setiap umat-Nya. Hasilnya mungkin tidak akan terlihat sekarang atau waktu dekat. Namun, pada akhirnya kita akan menyadari dan mengakui bahwa rancangan dan rencananya lebih indah baik daripada rencana yang kita rancangkan. Misalkan, mahasiswa baru ditempatkan di ITB pasti ada tujuannya. Tuhan tentu sudah merancangkan bagaimana kelak kita dapat melaksanakan kehendak-Nya dengan kita kuliah di ITB. Itulah hal yang saya dapatkan selama mentoring agama.
Mentoring lainnya adalah mentoring dari taplok tentunya. Materi yang dibawakan antara lain pola pikir K3 yang sudah pernah dibuat resumenya. Selain itu ada juga materi mengenai kolaborasi. Sebagai mahasiswa tentunya selain ada kompetisi, ada pula kolaborasi. Kolaborasi dapat diartikan sebagai kerja sama antar individu yang berbeda latar belakang untuk meraih tujuan yang sama. Di sini mahasiswa diajak untuk berkolaborasi walau rumpun ilmu atau budayanya berbeda karena sekarang kita adalah mahasiswa ITB. Dalam berkolaborasi tentu saja ada konflik yang timbul seperti tujuan, prinsip, konsep-konsep yang berbeda. Akan tetapi semua itu harus diminimalisir sehingga tujuan kolaborasi dapat tetap tercapai. Setidaknya ada 2 tujuan kolaborasi: efisiensi mutu dan melihat dari berbagai sudut pandang. Kolaborasi sangat berperan dalam mendidik kita agar bisa mengatur dan diatur.
Materi lainnya yang tak kalah penting adalah mengenai urgensi kemahasiswaaan. Di sini dijelaskan mengenai falsafah kemahasiswaan yaitu POPOPE (Posis, Potensi, dan Peran). Ada 3 posisi mahasiswa, yaitu sebagai masyarakat sipil terpelajar, masyarakat ekonomi, dan masyarakat politik. Potensi mahasiswa tentu saja banyak antara lain, kritis, idealis, mandiri, semangat, wawasan luas, multidisiplin ilmu, dan jaringan. Sedangkan peran mahasiswa dapat dibagi menjadi 3: agent of change(agen perubahan, harus bergerak ke masyarakat), iron stock(harus bisa ditempa, bisa dipakai Negara/masyarakat, pengganti generasi yang sekarang memimpin), dan guardian of value(penjaga nilai atau norma dan budaya). Selain itu ada pula materi mengenai Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian masyarakat. Setiap mahasiswa sudah barang tentu melaksankan konsep-konsep ini. Hal lain yang tak kalah penting adalah budaya kampus, tentunya budaya kampus di ITB. Ada 11 poin budaya kampus yang diinginkan oleh KM-ITB : peduli lingkungan, integritas akademik, diskusi, apresiasi, wawasan kebangsaan, inovasi, kewirausahaan, budaya mahasiswa dekat masyarakat, lingkungan/ alam, mau menjadi pemimpin, dan mau menulis. Selain itu pula ada materi mengenai cinta tanah air. Mahasiswa dituntut untuk memiliki rasa cinta tanah air yang dalam. Hal itu menjadi sangat penting mengingat mahasiswa akan menjadi calon pemimpin masa depan. Hal itu harus diwujudkan dalam keseharian hidup mahasiswa, jadi bukan saja dalam hal akademik semata. Setiap mahasiswa juga dituntut untuk aktif dalam kegiatan kemahasiswaan (non-akademis) seperti aktif dalam Unit ataupun turut berperan dalam HMJ, kabinet, dsb. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan ini juga tidak lain adalah untuk mengembangkan karakater mahasiswa yang seutuhnya.
Selain itu mentoring juga dibawakan oleh senior angkatan 2011 mengenai KM-ITB dan pergerakan mahasiswa. Anggota KM-ITB adalah seluruh mahasiswa S-1 di ITB. Kedaulatan tertingginya tetap ada di tangan mahasiswa S-1 ITB. Kelengkapan organisasi KM-ITB berupa Kongres, Kabinet KM-ITB, Tim Beasiswa, MWA/WM, HMJ(Himpunan Mahasiswa Jurusan), dan Unit Kegiatan Mahasiswa. Kongres menempati urutan tertinggi dalam hal kekuasaan. Anggota Kongres adalah senator-senator yang berasal dari perwakilan HMJ. Kongres memiliki kedaulatan atas MWA/WM dan Kabinet. Kabinet, MWA/WM, dan Tim Beasiswa berada dalam posisi sejajar. Kabinet memiliki fungsi koordinasi(kerja sama) dengan MWA/WM dan Tim Beasiswa. Di bawah Kabinet ada HMJ dan Unit. Kabinet juga harus berkoordinasi dengan HMJ dan Unit walau posisi keduanya berada di bawah Kabinet. Itulah kira-kira gambaran diagram antar kelengkapan organisasi di KM-ITB.
Materi terakhir adalah mengenai gerakan mahasiswa secara umum dan di ITB khususnya. Gerakan mahasiswa dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu vertikal dan horizontal. Secara vertikal berarti gerakan mahasiswa ditujukan ke pemerintah. Hal ini biasanya ditujukan dalam bentuk demonstrasi. Mahasiswa ITB memiliki cara yang berbeda dalam hal demonstrasi. Mahasiswa ITB tidak melakukan demo dengan cara-cara anarkis melainkan dengan cara-cara diskusi antara pihak pemerintah dan mahasiswa, seperti yang dilakukan dengan pihak DPR ketika berdemo mengenai kenaikan harga BBM. Hal ini menurut mahasiswa ITB ditujukan dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dan nama baik ITB. Mahasiswa ITB juga tidak mau mengikuti demo yang tidak jelas tujuan atau konsepnya sekalipun itu diajak oleh mahasiswa dari kampus lain. Gerakan mahasiswa secara vertikal memiliki dampak positif karena dampaknya luas, bahkan bisa berskala nasional.Akan tetapi, gerakan mahasiswa secara vertikal seperti demo juga memiliki dampak negative yaitu tindakan anarkis yang bisa merugikan masyarakat sekitar dan fasilitas umum. Jenis gerakan mahasiswa yang kedua adalah secara horizontal. Hal ini bisa dilakukan dengan bakti sosial sebagai contohnya. Gerakan mahasiswa secara horizontal memang lebih dititikberatkan sebagai gerakan yang ditujukan langsung kepada masyarakat. Contoh lainnya adalah pembangunan desa tertinggal. Gerakan horizontal memiliki dampak positf berupa gerakan yang tidak anarkis dan manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat. Akan tetapi gerakan mahasiswa secara horizontal memiliki dampak yang sempit karena hanya bergantung kepada area tertentu saja, tidak seperti gerakan vertikal yang jika berhasil bisa berdampak nasional. Berkenaan dengan hal ini, perguruan tinggi pun memiliki tugas di antaranya menghasilkan insan akademis. Mereka adalah mahasiswa yahng mampu mengabdikan ilmunya ke masyarakat, bukan saja di dalam kampus. Sebagai insan akademis tentunya memiliki 2 peran: menghadapi tantangan masa depan dan mengerti kebenaran yang realistis/ sebenarnya, bukan secara subjektif. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan ini juga tidak lain adalah untuk mengembangkan karakater mahasiswa yang seutuhnya.
Resume video mitigasi bencana:
Bencana dapat terjadi kapan saja. Baik ketika kita siap menghadapinya maupun saat yang tidak kita duga. Maka dari itu perlu tindakan-tindakan dalam menghadapi bencana. ITB sangat peduli dengan hal ini. Maka dibuatlah sebuah video mitigasi bencana meliputi tindakan-tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, baik bencana alam seperti gempa bumi dan bencana yang disebabkan oleh kelalaian manusia atau kesalahan pada fasilitas atau alat-alat seperti kebakaran.
Untuk bencana gempa bumi, dijelaskan bahwa hal yang perlu dilakukan ketika kita berada di dalam ruangan adalah langsung mencari tempat persembunyian seperti kolong meja atau tempat berlindung lainnya. Setelah gempa berhenti, segera keluar dari ruangan, cari tempat terbuka dan lindungi kepala Anda ketika keluar ruangan sehingga Anda aman. Hal ini ditujukan untuk menghindari adanya runtuhan bangunan yang bisa mencelakai kita. Jika kita berada di luar bangunan, segera mencari lapangan agar terhindar dari reruntuhan bangunan atau pohon yang mungkin tumbang.
Jika terjadi kebakaran dan Anda berada di dalam ruangan, segera cari APAR(alat pemadam) dan padamkan api. Akan tetapi, jika Anda tidak yakin mampu melakukannya mintalah bantuan orang di sekitar Anda atau hubungi segera petugas pemadam kebakaran. Jika Anda berada di luar bangunan dan terjadi kebakaran, segera hubungi petugas pemadam kebakaran, agar kebakaran tidak meluas. Itulah tindakan pertama yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana gempa bumi dan juga ketika terjadi kebakaran.