NIM: 16513315
Fakultas: STEI
Hari ini, tepatnya 23 Agustus 2013,
mahasiswa baru ITB kembali melanjutkan
rangkaian acara OSKM 2013 yang akan berakhir tanggal 24 Agustus. Pukul 5.50
kami sudah diminta berkumpul di perpustakaan pusat. Setelah itu kami
dimobilisasi menuju Saraga. Jalan cepat dari area kampus ke area Sabuga
sepertinya sudah menjadi agenda rutin kami selama OSKM ini. Sampai di lapangan
Saraga, kami langsung berbaris berdasarkan kelompok kami. Seperti biasa panitia
OSKM menyuruh kami untuk tutup mata dan telinga. Ketika kami membuka mata dan
telinga, ada beberapa orang dari panitia OSKM yang baru kami tahu. Mereka
awalnya mengenalkan diri mereka, namun pada akhirnya mereka malah memarahi
angkatan 2013 ini karena merasa angkatan 2013 ini mengecewakan dengan adanya
mahasiswa yang terlambat, menghina panitia OSKM, tidur di auditorium, dan
sebagainya. Jujur saya pun cukup terkejut, kok maba 2013 malah dimarahi padahal
tidak ada suatu kesalahan fatal yang dibuat. Mereka malah menanyakan pula
spek-spek yang aneh seperti helm, spion, garam yodium, foto keluarga dan
lainnya. Jujur dalam hati saya ingin tertawa karena emang benar- benar lucu.
Namun suara mereka yang keras mengurungkan niat saya. Mereka mengatakan akan
memberi kami konsekuensi atas kekecewaan mereka pada ITB 2013. Dan ternyata
mereka cuma main-main. Semua itu hanya akting dan rekayasa mereka belaka.
Malahan pada akhirnya mereka mengajak seluruh mahasiswa untuk senam dan
bergoyang ria, sungguh suatu hal yang tak terduga menurut saya.
Selanjutnya kegiatan dilanjutkan
dengan tugas utama kami hari ini, yaitu membuat hashtag #untukindonesia. Dengan
cepat mahasiswa diatur oleh perwakilan kelompok untuk membuat formasi angkatan
tersebut. Menurut saya, di sini kita bisa berlatih daya kolaborasi atau
kerjasamakita sebagai mahasiswa. Suatu formasi yang indah, #untukindonesia bisa
terbentuk kurang lebih dalam waktu 45 menit. Formasi itu diabadikan dalam
sebuah foto yang tampaknya dapat memukau dan menginspirasi siapa saj yang
melihatnya, sebuah foto yang pantas dikenang sepanjang masa. Tak lupa
kakak-kakak taplok memberikan apresiasi dengan yel-yel mereka yang keren abis.
Selesai dari lapangan Saraga, kami
kembali dimobilisasi menuju auditorium Sabuga untuk mengikuti serangkaian acara
yaitu defile OHU dan juga seminar yang dibawakan beberapa pembicara terkenal
dan sukses. Di defile OHU kami diperkenalkan dengan berbagai unit-unit yang ada
di ITB, mulai dari rumpun agama,seni dan budaya, media, dan olahraga. Defile
OHU ini sebenarnya cuma preview dari acara yang sebenarnya akan dilaksanakan
pada 1 September, yaitu OHU (Open House Unit). Mahasiswa begitu antusias dan
memberikan apresiasi atas unit-unit yang ada di ITB.
Siang harinya kami dikelompokkan
berdasarkan agama kami masing-masing, yang muslim melaksanakan shalat Jumat
sedangkan non-muslim dikelompokkan ke unit agamanya masing-masing. Pukul 1 kami
masuk kembali ke auditorium untuk mengikuti seminar yang akan dibawakan Pa Gita
Wiryawan (Menteri Perdagangan), Wanadri, Bu Tri Mumpuni, dan Riset Indie.
Pa Gita membawakan seminarnya dengan
penuh semangat. Ia mengawalinya dengan kabar gembira dari dunia bulutangkis
Indonesia yang baru saja meraih 2 juara (ganda putra dan ganda campuran) di BWF
World Championships. Ia mengatakan bahwa sebagai pemuda, kita harus menunjukkan
semangat kita untuk berkontribusi bagi Indonesia. Indonesia membutuhkan
pemimpin-pemimpin bangsa yang mampu membawa negeri ini menuju kesejahteraan dan
kemakmuran. Semangat kemahasiswaan juga erat kaitannya dengan kearifan local.
Menurutnya, bangsa yang tidak punya kearifan lokal adalah bangsa yang
kehilangan jati dirinya. Produk pendidikan jelas diperlukan dalam membangun
Indonesia. Namun itu saja tidak cukup. Menurut Pa Gita, pemerataan
industrialisasi di Indonesia diperlukan agar negara kita ini bisa bersaing
dengan negara lain. Untuk menutup pidatonya, Pa Gita memberikan sebuah amanat,”Jadilah
garuda-garuda yang kreatif, terampil, berteknologi dengan semangat kebangsaan.”
Narasumber kedua, Wanadri,sebuah
organisasi yang bergerak dalam bidang ekspedisi, juga turut menyampaikan
bagaimana kita sebagai mahasiswa dapat memberikan kontribusi untuk Indonesia.
Wanadri baru saja berhasil mencapai 7 puncak dunia bulan Mei kemarin.
Menurutnya bisa mencapai puncak-puncak dunia adalah kebanggaan tersendiri bagi
Wanadri terlebih lagi Indonesia. Wanadri juga telah menurunkan timnya untuk menancapkan
tanda Indonesia di 92 pulau terluar milik Indonesia. Menurutnya hal itu
dilakukukan agar negara-negara lain tidak bisa mengklaim pulau-pulau Indonesia.
Narasumber ketiga, Bu Tri Mumpuni, seorang yang sukses dalam membantu
masyarakat Indonesia yang daerahnya belum memiliki jaringan listrik. Bu Tri
berhasil mendapatkan berbagai penghargaan sebagai perempuan yang banyak
membantu masyarakat terpencil. Menurutnya, perlu ada kesadaran bagi mahasiswa
untuk menjadi wirausaha sosial, di mana kita bukan saja memikirkan aspek bisnis
tetapi juga bagaimana kita dapat berkontribusi untuk masyarakat Indonesia.
Narasumber terakhir kita, Riset Indie yang diwakili kak Saska menjelaskan
bagaimana ia dan tim nya dapat berkontribusi untuk Indonesia. Kak Saska yang
mendirikan Riset Indie setelah lulus dari Teknik Elektro ITB telah mengerjakan
beberapa proyek yang patut diacungi jempol. Proyeknya antara lain Project
Alinea di mana ia dan timnya membuat animatronic, sebuah robot yang menyerupai
alien sungguhan yang biasa dipakai dalam syuting film, sebuah karya yang indah. Proyeknya saat ini adalah Angkot Day, di mana ia akan menyelenggarakan
1 hari khusus, yaitu 20 September di mana angkot jurusan tertentu akan gratis
dan akan memberikan pelayanan maksimum. Hal ini menurutnya akan dikoordinasikan
kepada supir-supir angkot. Seperti kita tahu, masyarakat Bandung sudah tidak
asing lagi dengan kehidupan angkot. Tapi waktu ngetem-nya yang kadang lama
membuat kita enggan naik angkot. Masyarakat Bandung termasuk kita malah lebih
memilih untuk membawa kendaraan sendiri yang pada akhirnya menimbulkan kemacetan
di kota Bandung. Dengan adanya Angkot Day diharapkan masyarakat dapat memberikan feedback dan nantinya juga kualitas pelayanan angkot dapat ditingkatkan sehingga masyarakat lebih banyak menggunakan angkot dalam rangka mengurangi kemacetan.
Seminar ditutup dengan beberapa
pertanyaan dari mahasiswa baru yang langsung dijawab oleh pihak Wanadri dan
Riset Indie. Setelah seminar selesai kami berkumpul kembali dengan taplok dan
kelompok kami, kemudiaan pulang ke rumah masing-masing. Kira-kira itulah yang
dilakukan pada OSKM hari ini.
0 comments:
Post a Comment